Alumni Sharing tentang Venture Capital dari Perspektif Investor

Alumni Sharing tentang Venture Capital dari Perspektif Investor

Bandung, Telkom University – Alumni Sharing Entrepreneur 6.0 kembali diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Karir, Alumni dan Endowment (CAE) pada Kamis, 24 Juni 2021 melalui kanal Zoom dan Youtube. Kali ini dengan tajuk “Venture Capital Fund from Investor Perspective”, Direktorat CAE mengundang beberapa narasumber yang sekaligus alumni Telkom University, diantaranya adalah Dr.G.N Sandhy Widyasthana, PMP (Alumni S1 Teknik Telekomunikasi 1991 – COO / Portfolio Director of MDI Venture), Mochamad Irfan ZF (Alumni D3. Teknik Telekomunikasi 2008 – Founder HUI Indonesia), dan Putra Fajar Alam (Alumni S1 Sistem Informasi 2008 – CEO SMASH).

Selain dihadiri ketiga narasumber, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. Dida Diah Damayanti selaku Wakil Rektor III Telkom University, Prof. Dr. Maman Abdurrahman selaku Direktur Bandung Techno Park, dan Ahmad Nugraha selaku Ketua Forum Alumni Universitas Telkom (FAST).

Dr. Dida Diah Damayanti mengungkapkan harapan besarnya dari acara ini agar para narasumber dapat menginspirasi calon lulusan dan juga kampus Telkom University supaya kedepannya dapat bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Topik hari ini sangat relevan dengan visi kita untuk menjadi entrepreneurial university. Karena itu semua mudah-mudahan pihak bisa mendorong terwujudnya visi tersebut. Dan tentunya agar bahasan hari ini dapat menginspirasi adik-adik kita untuk menjadi entrepreneur serta masukan bagi Telkom University agar mengembangkan kampus ini dan juga menghasilkan lulusan-lusan yang siap menjadi entrepreneur,” ungkapnya.

Sementara Prof. Dr. Maman Abdurrahman menuturkan harapannya untuk para startup terutama yang ada di Bandung Techno Park.

“Semoga startup yang ada di Bandung Techno Park bisa melewatu fase berikutnya. Jika pada awalnya hanya sekedar membangun startup, selanjutnya bisa mendapatkan pendanaan dari Kemenristek/BRIN, hingga selanjutnya diharapkan mendapatkan pendanaan dari investor,” tuturnya.

Ahmad Nugraha selaku Ketua Forum Alumni Universitas Telkom (FAST) menambahka bahwa menjadi entrepreneur bisa menjadi salah satu pilihan yang menjanjikan.

“Untuk teman-teman mahasiswa, pilihan karir itu bukan satu-satunya, jadi masih ada pilihan untuk berbisnis dan juga berwirausaha,” ujarnya.

Dr.G.N Sandhy Widyasthana, PMP, COO / Portfolio Director of MDI Venture memberikan pemaparan mengenai apa itu venture capital dan bagaimana cara kerjanya. MDI Ventures merupakan perusahaan modal ventura dari PT. Telkom Indonesia yang berfokus pada investasi di perusahaan startup yang mana nanti produknya bisa digunakan oleh Telkom Group. 

Sejatinya, venture capital bukan hanya menginvestasikan dananya ke sebuah startup namun juga berarti siap menyimpan resiko. Karena apabila startup tersebut banngkrut kemungkinan untuk tidak balik modal sangatlah besar.

Venture capital selain memberikan pendanaan juga memiliki tugas lain seperti mentoring, alliances, dan facilitate exit,” jelasnya.

Mentoring diantaranya memberikan mentorship dan memberikan bantuan seperti bantuan legal, bantuan membuat perusahaan yang benar, bantuan membuat portofolio bisnis, dan lain sebagainya. Alliance berarti venture capital mencarikan partner, pasar, dan investor. Sedangkan tugas facilitate exit meliputi bantuan akuisisi perusahaan berdasarkan prosedur tertentu.

Sementara itu, Mochamad Irfan, Founder dari Hui Indonesia memberikan paparannya mengenai entrepreneur dari sisi pendiri startup. Hui Indonesia sendiri merupakan aplikasi kasir yang target pasarnya adalah pengusaha laundry di seluruh Indonesia. Baginya, komitmen, fokus, dan kepercayaan adalah kunci yang utama dalam membangun startup. Ketiga elemen tersebut merupakan kunci dalam mengembangkan sebuah startup. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam membangun sebuah startup juga terdapat peringatan, salah satunya adalah “berkembang sebelum rilis” dan kebahagiaan yang menipu”.

“Hati-hati dengan istilah berkembang sebelum rilis. Karena banyak dari kita bersikap idealis yang mana kita hanya memikirkan banyak fitur-fitur baru namun tidak sempat rilis. Yang selanjutnya adalah jangan sampai salah metriks. Cari tahu metriks yang cocok dengan perusahaan kita dan jangan sampai kita keliru,” ungkapnya.

Putra Fajar Alam, CEO SMASH, dalam kesempatan ini juga memberikan pemaparan mengenai startup yang dipimpinnya. SMASH (Sistem Online Manajemen Sampah) lahir dilatarbelakangi oleh ketertarikan dan kegelisahan Putra tentang permasalahan dalam mengelola sampah di lingkungan sekitar. Inisiatif untuk membangun SMASH muncul karena masih ada bank-bank sampah di Indonesia yang belum dikelola dengan profesional dan belum terstandarisasi. Selain itu, kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah yang kurang baik, keterbatasan pemerintah dalam memonitor data persampahan dengan cepat dan tepat, dan permasalahan industri yang tidak bisa mendapatkan data yang relevan dan akurat tentang pengggunaan produknya juga menjadi dasar terbentuknya SMASH.

“Karena mayoritas kompetensi yang dimiliki oleh tim di bidang IT, maka solusi yang kami tawarkan untuk mengatasi permasalahan ini tidak jauh dari kemampuan yang kami miliki. Saat ini kami sudah menciptakan aplikasi BankSampah.id dan mysmash yang saat ini tercatat sudah ada 4.908 unit bank sampah di 34 provinsi, dashboard e.smash, dan juga smart drop box atau tempat sampah pintar,” jelasnya.

Walaupun sudah go nasional, Putra selalu diberikan pesan agar tidak lupa dengan kampus Telkom University. Alhasil, ia dan tim sudah menciptakan I-WANT (Integrated Waste Management) yang dibina oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya yang juga didukung oleh salah satu perusahaan di Indonesia yaitu Unilever.

https://it.telkomuniversity.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.